Kerinduan Lebaran
![]() |
| Silaturahmi dengan keluarga besar |
Sejak kecil ku membayangkan bagaimana rasanya mudik jauh? Akhirnya puasa ini ku bisa merasakan mudik jauh dengan mengendarai sepeda motor dari Solo sampai ke Pemalang, dengan melewati macetnya jalan Semarang, melewati alas, ketemu banyak truck besar, sampai menerjang dinginnya udara malam yang menusuk keras pada kain jaket yang sedang ku kenakan saat itu. Bagiku apapun itu rintangannya bukan halangan berat, dengan tekat yang kuat apapun yang terjadi, ku harus pulang ke rumah Ibu dengan selamat.
Setelah berpuasa sebulan lamanya tuk mematuhi perintah agama, kini waktunya yang dinanti pun tlah tiba. Bersama-sama bersuka ria untuk menyambut lebaran. Kumandang demang takbir menyambut hari kemenangan dihari lebaran ini. Ku sambut lebaran tahun ini dengan adek tercinta, ku tunaikan Sholat Idul Fitri berjamaah di hari Jumat dengan mengikuti aliran Muhammadiyah yang berlokasi di Mushola Al-Huda. Lebaran kali ini terasa berbeda, dimana kampungku terasa begitu sepi.
Ku hormati toleransi, tuk tidak bersilahturahmi kerumah tetangga terlebih dahulu. Karna mayoritas tetanggaku juga belum merasakan lebaran. Ketupat ku potong perlahan, kutuangkan sayur dan juga opor ayam diatas ketupat tadi, dengan lahap ku makan ketupat itu sambil melamun mengamati sudut meja makan yang begitu sepi, tak sadar air mata ini jatuh membendung kerinduan dengan sosok Ibu dan Papa ketika sedang makan bersama di meja ini.
Tak terkira siang dah berganti sore, waktunya tuk ziarah makam. Pergi ke makam beriringan suka cita bersama sepupu. Tak terasa langkah kaki berjalan cepat menuju rumah terakhir orang tersayang. Oh Ibu Papa Simbah maafkan daku yang jarang pulang kerumah, karna akhir-akhir ini jadwal kuliah padat, kemudian ku rintihkan doa per-ayat. Selesai berdoa ku lanjutkan cerita kisahku selama di Solo, tak terasa air mata pun menetes mengalir membasahi pipi yang tembem ini. Malam harinya ku menangis lagi di kamar yang begitu nyaman, terenyuh hati ini saat mendengar merdu alunan takbir yang berkumandang hingga akhirnya tangisan itu, menuntun diri ini tuk memejamkan mata.
Keesokan paginya, kembali ku dengar alunan takbir yang berkumandang hingga bergegas tuk bangun. Tak sabar ku langsung memakai baju lebaran yang begitu indah dengan nuansa putih coklat. Dengan suasana kampung yang sepi, tak hiraukan langkah kaki ini tuk keluar rumah berkeliling silaturahmi menemui tetangga dan sanak keluarga tuk saling berjabat tangan guna minta maaf. Ku terjang suasana hari lebaran yang amat panjang ini dengan rasa lelah sambil menahan senyuman ke semua orang, selama 4 hari berturut-turut cuma tuk acara silaturahmi serta berkumpul bersama dengan semua keluarga besar dari Ibu dan Papa.
Pelajaran apa yang diambil selama lebaran ini anak-anak? Ya tentu saja rasa Ikhlas seperti slogan atau semboyan khas dari Pemalang yaitu Pemalang Ikhlas, jadi dapat disimpulkan orang itu harus Ikhlas menerima kenyataan hidup meskipun sambil nangis.
Tak lupa gue ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1444H, Mohon Maaf Lahir Batin teman-teman, dan kalo gue punya salah gue minta THR😜
.

Komentar
Posting Komentar